Pion Terakhir.???
Pion Terakhir.???
By. Muhammad Sigit S
Masih dengan
problem covid 19. Dalam lamunan aku mereview, mengulas dan mengingat. Bertadzakkur
lagi-lagi perihal lalu. Tadzakkur adalah proses yang dilakukan oleh kaum
ulul albab, bukan orang lain. Imam
al Ghazali berkata bahwa setiap orang yang berpikir adalah betadzakkur, dan
tidak setiap orang yang bertadzakur itu berpikir. Manfaat bertadzakkur
adalah mengulang kembali pengetahuan yang telah didapatkan di dalam hati dan
mengingat kembali apa yang dilupakan dan di lalaikan sehingga teringat kuat
dalam hati dan tidak terhapus. Disamping itu, manfaat berpikir adalah
memperbanyak ilmu pengetahuan dan mencari pengetahuan yang belum di kuasai. Inilah
perbedaan antara tadzakkur dam tafakkur. Hal ini juga dijelaskan
dalam al Qur’an, surat Yunus: 3 & Hud: 24.
Suasana pendemi
ini, setiap orang berbeda dalam hal lakon utama. Mahasiswa dengan rebahan dan
tugasnya, orang tua yang harus berfikir dua tiga kali tentang bagimana besok
dan anak-anakny. Hingga Menjual bubur dilarang keras, menjual es cendol d ciduk,
bahkan menjual roti di bakar.! (kwkwkw cermati dengan baik)
Sedang aku.? Ya
aku bukan mahsiswa lagi, juga belum sampai ke ranah orang tua. Berada di antara
dua hal yang sangat kontras. Alhasil bernostalgia. Kembali mengulas cerita. Tentang
behtera yang mampu memuat puluhan ratusan hingga ribuan awak manusia, namun
yang bertahan hanya beberapa gelintir saja.
Ombak, angin,
dan semuanya itu datang silih berganti menemani perjalanan kali ini. Alhasil belum
juga sampai penghujung banyak yang berguguran. Turun. Hilang secara perlahan. Mundur
tanpa berita (muntaber) dengan segudang alasan lainnya.
Aku tidak
pernah menyalahkan, juga tidak berbangga karena kegagalan dan keberhasilan
semuanya bisa menjadi ujian. Lantas apa sudah berhasil.? Tentu belum. Aku saja
bingung indikator berhasil itu sesungguhnya bagaimana. Iya mungkin kau bisa
menjawab dengan teori tapi sangat sedikit sekali yang tepat menjawab dengan
praktek. Diperjalanan yang tak tau kapan bermula dan tak tau kapan ujungnya
ini, hanya keyakinan atau mungkin kebetulan yang menjadikannnya tetap bertahan.
Apa aku gagal? Juga belum tentu. Gagal itu jika tidak berpartisipasi. Aku berpartiipasi!.
Kalimat ini
sengaja ku ringkas dengan bahasa yang sangat sederhana. Dengan kesadaran penuh
bahwa ini adalah ulasan kenang. Hari itu, tahun 2015 seingatku perjalananku
dimulai, entah kenapa aku ikut andil disana. Tersesatkah? Atau mungkin yang
lainnya. Optimisku ini sudah jalan yang di garikskan Sang Maha Kuasa. Saat itu
tidak hanya aku, banyak teman-teman satu angkatan bahkan juga kakak tingkat
yang bergabung disana. Dikatakan banyak karena lebih dari tiga.
Butuh dua hari
untuk bisa menumpang di bahtera itu. tapi tidak bermalam. Syarat itu harus
diikuti secara penuh. Berbagai pelatihan, materi, dan dasar mengenai bahtera
yang akan kami ikuti di paparkan oleh narasumber yang berbeda-beda, tidak hanya
lokal saja. Tapi ada yang berasal dari kota sebelah. Luar biasa, jauh-jauh dari
kota sebelah datang kemari ternyata dengan ongkos sendiri, dengan resiko yang
juga akan ditanggung sendiri walau tentu rekan yang lain akan membantu jikapun
terjadi.
Setoran hafalan,
resuman, dan juga laporan lainnya harus segera di setorkan disela-sela
pergantian materi. Forum ini di awal sangatlah membosankan, sebab materi yang
diberikan bukanlah tentang mata kuliah, apalagi pelatihan menulis karya ilmiah.
Wajah polos, muka lugu ini tidak menahu tentang apapun itu. Jika di tanya
dijawab semampunya, bila tak tau, nyengir menjadi andalan utama.
Dan ini adalah
sebuah kegiatan yang kuiikuti pertama kali selama hidupku. Mungkin juga
sebagian dari kalian. Sebuah ruangan kecil berkapasitas 75 orang ini hampir
penuh. Dan lagi, di dominasi oleh kaum Hawa. Lelakinya.? Ya bisa dihitung jari,
aku lupa berapa persisnya. Sebagian dari mereka sudah ku kenal. Sebagian lainnya
sok kenal saja. Wkwkwk.
Siang itu kami
makan siang. Acara dua hari hanya dengan lima belas ribu rupiah, dapat makan,
snack pagi sore, minum, permen dan kabarnya sertifikat. Gebetan.? Tidak sampai
terfikir kesana. Bagiku cocok ini kalo ada kegiatan yang serupa setiap minggu. Hitung-hitung
mengehemat uang saku.
Dua tahun
dalam bahtera setelah hari itu, dalam dialog....
“masa kita sekarang adalah masa
membangun fondasi, kita kokohkan dulu fondasi bahtera ini. Setidaknya dari sana
kita berkontribusi untuk mendapat amal
jariyah. Jika bahtera ini terus berlanjut, kita harus fikirkan generasi
mendatang, oleh karena itu job desc atau pemetaan anggota sangatlah
penting, jangan pernah mencampur adukan walau satu tujuan, hal itu harus kita
lakukan sekarang.! Kita musti belajar dari kisah lalu. Tentu dengan tidak
membelakangi aturan. Sebab yang paling tau dengan kondisi daerahnya adalah
mereka yang tinggal didalamnya, yang mengerti akan apa kekurangan dan keperluan
di daerahnya adalah ia yang juga tinggal di dalamnya” kata salah seorang awak
bahtera.
“iya, kami mengerti, tapi kita
harus lihat juga kondisi para tutor dan anngota kida belum mencukupi, kita
harus mencukupi itu” jawab awak bahterea yang lain.
“kita perlu melakukan akselerasi,
percepatan untuk itu, supaya kita tidak tertinggal, kita coba pola baru” awak
laiinnya meyakinkan.
Di tengah
diskusi yang begitu hangat, faktanya dari lima belas orang, hanya ada tiga kaum
adam. Lebihnya kaum Hawa. Tiga itulah Bidak terakhir yang masih mau mengelola
bahtera setelah hampir saja di tinggalkan
para leluhur.
Bahtera itu bernama
LDK.
Dan dari tiga
itu, Bidak terakhir itu adalah AKU dari angkatan LMDK 2015, itu bukan aku yang
bilang, tetapi salah seorang hamba yang sekarang masih hidup orangnya. Dari sana
aku baru tersadar akan hal itu. Aku menjadi Bidak terakhir.
Ikhwafillah,
dan ikhwan ketce yang semoga tetap istiqomah. Kau tau? Persauadaraan yang
paling indah adalah bersaudara dengan ia yang mau mengingatkan kita akan
kebaikan. Mendekatkan kita kepada Allah. Mau di ajak berbagi dengan tidak
mengedepankan ego dan gengsi. Fleksibel dalam bergaul, dengan tidak keluar
alur. Dan kau tau akhi.? Bahwa ikhwan LDk itu ternyata banyak yang suka
(positif thingking coy!), dan banyak yang mendo’a dalam diamnya. Ceileee ....
Jaga itu. buktikan itu dengan
tidak membuat kecewa.!
Semoga Memotivasi.
Sambil dengarkan lagu Harokah, Akulah Satu
Diantaranya.! By Maidany
#Ms
Note:
Bidak = pion catur, prajurit, laskar.

Saling mendo'akan dalam kebaikan semoga kefuturan berubah menjadi sebuah kenikmatan untuk becengkrama dengan tuhan !
ReplyDeleteAamiinn. . .
DeleteMasya Allah.. Syukron untuk motivasi yang terkandung dalam cerita antum.
ReplyDeleteSedikit kritik : ada beberapa kesalahan pada kata " pendemi (pandemi) paragraf kedua alenia pertama, mahsiswa(Mahasiswa) behtera (bahtera) di paragraf ketiga, digarkskan (digariskan) pada paragraf enam, dan anngota kida (anggota kita) pada paragraf sebelas...
Selebihnya sudah bagus dan baik.. dalam pengemasan kalimat sehingga pembaca tertarik dan termotivasi dari tulisan ini.
terimakasih atas koreksinya
DeletePaan sih...?
ReplyDeleteGood job aja deh..
Maap ini netizen julid😁😎😝