Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Pion Terakhir.???

    Pion Terakhir.???
    By. Muhammad Sigit S

    Masih dengan problem covid 19. Dalam lamunan aku mereview, mengulas dan mengingat. Bertadzakkur lagi-lagi perihal lalu. Tadzakkur adalah proses yang dilakukan oleh kaum ulul albab, bukan orang lain.  Imam al Ghazali berkata bahwa setiap orang yang berpikir adalah betadzakkur, dan tidak setiap orang yang bertadzakur itu berpikir. Manfaat bertadzakkur adalah mengulang kembali pengetahuan yang telah didapatkan di dalam hati dan mengingat kembali apa yang dilupakan dan di lalaikan sehingga teringat kuat dalam hati dan tidak terhapus. Disamping itu, manfaat berpikir adalah memperbanyak ilmu pengetahuan dan mencari pengetahuan yang belum di kuasai. Inilah perbedaan antara tadzakkur dam tafakkur. Hal ini juga dijelaskan dalam al Qur’an, surat Yunus: 3 & Hud: 24.
    Suasana pendemi ini, setiap orang berbeda dalam hal lakon utama. Mahasiswa dengan rebahan dan tugasnya, orang tua yang harus berfikir dua tiga kali tentang bagimana besok dan anak-anakny. Hingga Menjual bubur dilarang keras, menjual es cendol d ciduk, bahkan menjual roti di bakar.! (kwkwkw cermati dengan baik)
    Sedang aku.? Ya aku bukan mahsiswa lagi, juga belum sampai ke ranah orang tua. Berada di antara dua hal yang sangat kontras. Alhasil bernostalgia. Kembali mengulas cerita. Tentang behtera yang mampu memuat puluhan ratusan hingga ribuan awak manusia, namun yang bertahan hanya beberapa gelintir saja.
    Ombak, angin, dan semuanya itu datang silih berganti menemani perjalanan kali ini. Alhasil belum juga sampai penghujung banyak yang berguguran. Turun. Hilang secara perlahan. Mundur tanpa berita (muntaber) dengan segudang alasan lainnya.
    Aku tidak pernah menyalahkan, juga tidak berbangga karena kegagalan dan keberhasilan semuanya bisa menjadi ujian. Lantas apa sudah berhasil.? Tentu belum. Aku saja bingung indikator berhasil itu sesungguhnya bagaimana. Iya mungkin kau bisa menjawab dengan teori tapi sangat sedikit sekali yang tepat menjawab dengan praktek. Diperjalanan yang tak tau kapan bermula dan tak tau kapan ujungnya ini, hanya keyakinan atau mungkin kebetulan yang menjadikannnya tetap bertahan. Apa aku gagal? Juga belum tentu. Gagal itu jika tidak berpartisipasi. Aku berpartiipasi!.
    Kalimat ini sengaja ku ringkas dengan bahasa yang sangat sederhana. Dengan kesadaran penuh bahwa ini adalah ulasan kenang. Hari itu, tahun 2015 seingatku perjalananku dimulai, entah kenapa aku ikut andil disana. Tersesatkah? Atau mungkin yang lainnya. Optimisku ini sudah jalan yang di garikskan Sang Maha Kuasa. Saat itu tidak hanya aku, banyak teman-teman satu angkatan bahkan juga kakak tingkat yang bergabung disana. Dikatakan banyak karena lebih dari tiga.
    Butuh dua hari untuk bisa menumpang di bahtera itu. tapi tidak bermalam. Syarat itu harus diikuti secara penuh. Berbagai pelatihan, materi, dan dasar mengenai bahtera yang akan kami ikuti di paparkan oleh narasumber yang berbeda-beda, tidak hanya lokal saja. Tapi ada yang berasal dari kota sebelah. Luar biasa, jauh-jauh dari kota sebelah datang kemari ternyata dengan ongkos sendiri, dengan resiko yang juga akan ditanggung sendiri walau tentu rekan yang lain akan membantu jikapun terjadi.
    Setoran hafalan, resuman, dan juga laporan lainnya harus segera di setorkan disela-sela pergantian materi. Forum ini di awal sangatlah membosankan, sebab materi yang diberikan bukanlah tentang mata kuliah, apalagi pelatihan menulis karya ilmiah. Wajah polos, muka lugu ini tidak menahu tentang apapun itu. Jika di tanya dijawab semampunya, bila tak tau, nyengir menjadi andalan utama.
    Dan ini adalah sebuah kegiatan yang kuiikuti pertama kali selama hidupku. Mungkin juga sebagian dari kalian. Sebuah ruangan kecil berkapasitas 75 orang ini hampir penuh. Dan lagi, di dominasi oleh kaum Hawa. Lelakinya.? Ya bisa dihitung jari, aku lupa berapa persisnya. Sebagian dari mereka sudah ku kenal. Sebagian lainnya sok kenal saja. Wkwkwk.
    Siang itu kami makan siang. Acara dua hari hanya dengan lima belas ribu rupiah, dapat makan, snack pagi sore, minum, permen dan kabarnya sertifikat. Gebetan.? Tidak sampai terfikir kesana. Bagiku cocok ini kalo ada kegiatan yang serupa setiap minggu. Hitung-hitung mengehemat uang saku.
    Dua tahun dalam bahtera setelah hari itu, dalam dialog....
    “masa kita sekarang adalah masa membangun fondasi, kita kokohkan dulu fondasi bahtera ini. Setidaknya dari sana kita berkontribusi untuk  mendapat amal jariyah. Jika bahtera ini terus berlanjut, kita harus fikirkan generasi mendatang, oleh karena itu job desc atau pemetaan anggota sangatlah penting, jangan pernah mencampur adukan walau satu tujuan, hal itu harus kita lakukan sekarang.! Kita musti belajar dari kisah lalu. Tentu dengan tidak membelakangi aturan. Sebab yang paling tau dengan kondisi daerahnya adalah mereka yang tinggal didalamnya, yang mengerti akan apa kekurangan dan keperluan di daerahnya adalah ia yang juga tinggal di dalamnya” kata salah seorang awak bahtera.
    “iya, kami mengerti, tapi kita harus lihat juga kondisi para tutor dan anngota kida belum mencukupi, kita harus mencukupi itu” jawab awak bahterea yang lain.
    “kita perlu melakukan akselerasi, percepatan untuk itu, supaya kita tidak tertinggal, kita coba pola baru” awak laiinnya meyakinkan.
    Di tengah diskusi yang begitu hangat, faktanya dari lima belas orang, hanya ada tiga kaum adam. Lebihnya kaum Hawa. Tiga itulah Bidak terakhir yang masih mau mengelola bahtera setelah hampir saja di tinggalkan  para leluhur.
    Bahtera itu bernama LDK.
    Dan dari tiga itu, Bidak terakhir itu adalah AKU dari angkatan LMDK 2015, itu bukan aku yang bilang, tetapi salah seorang hamba yang sekarang masih hidup orangnya. Dari sana aku baru tersadar akan hal itu. Aku menjadi Bidak terakhir.
    Ikhwafillah, dan ikhwan ketce yang semoga tetap istiqomah. Kau tau? Persauadaraan yang paling indah adalah bersaudara dengan ia yang mau mengingatkan kita akan kebaikan. Mendekatkan kita kepada Allah. Mau di ajak berbagi dengan tidak mengedepankan ego dan gengsi. Fleksibel dalam bergaul, dengan tidak keluar alur. Dan kau tau akhi.? Bahwa ikhwan LDk itu ternyata banyak yang suka (positif thingking coy!), dan banyak yang mendo’a dalam diamnya. Ceileee ....
    Jaga itu. buktikan itu dengan tidak membuat kecewa.!
    Semoga Memotivasi.
    Sambil dengarkan lagu Harokah, Akulah Satu Diantaranya.! By Maidany
    #Ms

    Note:
    Bidak = pion catur, prajurit, laskar.
     


    5 comments:

    1. Saling mendo'akan dalam kebaikan semoga kefuturan berubah menjadi sebuah kenikmatan untuk becengkrama dengan tuhan !

      ReplyDelete
    2. Masya Allah.. Syukron untuk motivasi yang terkandung dalam cerita antum.

      Sedikit kritik : ada beberapa kesalahan pada kata " pendemi (pandemi) paragraf kedua alenia pertama, mahsiswa(Mahasiswa) behtera (bahtera) di paragraf ketiga, digarkskan (digariskan) pada paragraf enam, dan anngota kida (anggota kita) pada paragraf sebelas...

      Selebihnya sudah bagus dan baik.. dalam pengemasan kalimat sehingga pembaca tertarik dan termotivasi dari tulisan ini.

      ReplyDelete
    3. Paan sih...?
      Good job aja deh..
      Maap ini netizen julid😁😎😝

      ReplyDelete

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728