Header Ads

ad728
  • Breaking News

    CINTA, BAKTI, RINDU BAKOMAS


    CINTA, BAKTI DAN RINDU BAKOMAS
    Episode 1,
    “Malam Pertama Sunnah Rasul.. “:D
    Kamis Sore 22 maret 2018, kami bersiap berangkat untuk bakti konseling masyarakat, terlihat ada Bpk Nafrial, M.Ed selaku penanggung jawab BAKOMAS juga sebagai ketua prodi BKl, ada juga Bpk Afrizal, M.Pd yang bertubuh gempal, berkulit putih mirip keturunan china, bermuka bulat, rambut yang agak sedikit botak di bagian depan, mungkin karena banyaknya yang di pikirkan,  juga dang Mukmin seorang lelaki yang bertubuh kecil bahkan sempat di teropong oleh siswanya ketika PPL, merupakan staf handal dari prodi BKI bahkan sampai-sampai Pak Nafrial akan mundur dari jabatan ketua prodi jika dang Mukmin di pindah tugaskan.
    Waktu menunnjukkan pukul 14.00 kami memasukkan barang barang ke dalam mobil pik up grand max, mulai dari seperangkat tenda, kompor, ember, baskom, terpal, sapu, tikar,tabung gas, piring, sendok dan seprangkat mandi yang kami perlukan. Kami susun secara rapi, lalu kami mengikatnya dengan kuat agar tidak terjadi hal hal yang tidak di inginkan.
    Aku, Anugrah, Endrik, Ria Saputra, Andre, Firdaus, Krisyawa, Emil, Heni, juga Nurmayanti adalah team pertama yang berangkat lebih dulu untuk persiapan bakomas.
    Anugrah adalah mahasiswa semester 2 B, bertubuh kurus dengan otot yang gk juga sispek, tetapi sok sokan gaya binaraga karena kesukaannya memakai singlet, kulit hitam namun tak sehitam arang. Serta cukuran cepak membuat orang melihatnya sedikit seram. Tapi tidak. Hidung yang tak begitu mancung, dengan bibir tipis di lengkapi kumis yang tanggung antara ada dan tiada. Hampir mirip dengan aktor Holywood ala gue..
    Endrik adalah lelaki yang bertubuh tinggi menjulang ke angkasa, sok sokan, hitam manis, hidung mancung seperti petruk yang menjadi dambaan orang-orang, waktu itu ia mengenakan jaket yang berwarna hitam ke hiaju-hijauan yang berbahan parasut, mengenakan tas berwarna hitam yang di tutup olehmantel tas. Mata sinis, bibir tipis juga kumisnya membuat orang yang melihatnya merasa bertemu dengan pangeran ala BKI.
    Ria saputra sosok lelaki yang pendiam, tak banyak bicara dengan julukan “ACC” karena jika di minta apaun selalu ACC, dan perkaataan lainnya yaitu “Jadi Aman Makso Nian” walaupun dia adalah murni asli keturunan jawa, ketawanya yang polos dan wajahnya yang lumayan tidak membosankan, menurut 3 orang wanita dari geng nya yang hanya 4 orang, namun begitu ia tetap aksis di antara teman-temannya yang lain. Kulitnya tak separah Anugrah, hidungnya tak semancung Endrik, ah pokoknya Khas Jawa lah.
    Andre, lelaki muda bertubuh gempal berkulit hitam berwajah sangar mengingatkan ku kepada sosok orang yang paling ku takuti, yaitu orang di sekitar rumah ku dulu, rambut yang agak keriting di bagian depan, hidung yang mancung, beralis tebal. Namun dia adalah orang yang paling bersemangat dalam mengadakan kegiatan BAKOMAS ini, dia adalah sosok orang yang menyelesaikan masalah sebab ia berasal dari Musi Rawas juga, ia rela berhujan hujanan untuk berangkat dan menyiapkan keperluan Bakomas. Kalo saya mengatakan ia adalah pahlawan Bakomas.
    Firdaus, lelaki kelahiran lahat, bertubuh sedang, rambut hitam disisir pinggir kanan, alis tebal hidung mancung, berbibir tipis, berkulit hitam tapi sawo matang, dengan baju kemeja dan celana dasar dan tas kecil yang selalu di tentangnya entah apa isisnya. Sering di panggil abang oleh rekan seangkatannya. Bicaranya yang kocak dan ceplas ceplos membuat orang di sekitarnya tak bisa berhenti tersenyum, macam Sule. Pelawak tanpa tanda jasa.
    Pk Ustad, begitulah sapaan akrab dari Kris, lelaki bertubuh tinggi dengan badan sedang ini adalah lulusan dari pesantren gontor, saat ini sebagai ustad di pesantren Darussalam Kepahyang, Rambut rapi ala Ustad zaman now, mata jengkol, hidung mancung, pipi bakpau, berbibir sedang, beberapa jenggot tumbuh di dagunya mengikuti sunnah rasul, berkulit putih bersih karena selalu menjaga wudhu. Ia yang selalu menasehati dan  mengingatkan kami ketika ada sesuatu yang salah menurut syari’at Islam. Kami sering menyebutnya Pak Hasta ke dua yang merupakan Dosen juga Ustad kondang di sekitar Rejang Lebong.
    Emil, adalah sosok cewek yang aktif, saking aktifnya semua orang sampe di baperi dengan segala cara dan upaya demi kesenangannya. Namun ialah perantara penolong kami ketika di Musi Rawas, mulai dari penginapan, makan, dan jamuan lainnya yang di berikan olehnya juga keluarganya. Rambutnya yang entah seperti apa karena hijab yang selalu menutupnya. Hidung yang tak juga terlalu mancung, berkulit juga tak jelas karena baju panjang yang menutupnya, merupakan gadis keturunan Lembak. Walau begitu ia bisa bahasa Jawa karena hidup di lingkungan jawa yang membuat ia banyak teman.
    Heni, gadis bertubuh kurus, namun semangatnya tak pernah lebih kurus dari badannya, tingginya yang juga luamayan untuk takaran seorang perempuan, wajah lonjong menunjukkan kepolosannya yang di sembunyikan dari senyum manis di wajahnya. Kulit sawo matang menambah syahdu, kerena mendung menyelimuti. Hidung mancung dan mata lebar mengisyaratkan bahwa ia adalah perhiasan dunia.
    Nurmayanti mahasiswi bertubuh bulat, berwajah bulat, sampai obrolannya pun ikut bulat dalam artian gak pernah kehabisan bahan untuk mengobrol, bagaikan radio yang gak pernah kehabisan signal menghibur kami dalam persiapan juga dalam perjalanan, pun juga dalam pelaksanaan dan kesehariannya. Nurma ibarat embun penyejuk dalam ketenggangan, lelucon dari bibir mungilnya selalu muncul, berbanding lurus dengan Firdaus.
    Aku, adalah bocah dari keturunan Jawa. temanku akrab memanggilku Sigit, karena itu memang namaku Muhammad Sigit Santoso. Bocah kecil dengan ukuran tubuh mungil, kurus, bermuka persegi dan manis, rambut ala mantan Presiden, SBY. Hidung yang tak mancung namun eksotis, bermata  jeli. Kulit kuning manis sawo matang, saat itu aku di amanahkan menjadi ketua penitia BAKOMAS. Hingga aku berpikir alangkah indah jika peristiwa ini di jadikan sebuah kenagan indah agar generasi penerus sepeti anda yang sedang membaca dapat mengambil i’tibar dan pelajaran dari sepotong episode kehidupan ini. Lantas aku tulis sepatah dua patah kata yang di patahkan menjadi ribuan patah kata terangkai dalam satu judul, mensyiratkan banyak makna.
    Tak terasa sudah pukul 17.30, persiapan akhirnya selesai,  berkahnya ketika kami hendak berangkat si hujan pun datang menghampiri dengan begitu derasanya. Lantas aku terabas si hujan dengan sepeda motornya Endrik, hanya dengan mengenakan jaket kopma, gigil mengigil di dalam tulang,  mengambil terpal, mampir menemui Feronika. Feronika merupakan perempuan keturunan jawa cirebon yang berparas cantik, dengan gigi yang tak rata, kulit tak juga hitam, bisa di sebut kuning sawo layaknya orang  jawa, lesung pipinya yang tak begitu dalam menambah syahdu hujan di sore itu, menemuiku dengan mengenakan mukena berwarna biru membuat si hujan tak kunjung lekang, air yang menetespun bak aksara china yang tampak kacau, padahal sudah di atur oleh Sang Maha Kuasa.     
    Pertemuan singkat sore itu, tertitip pesan dari bibir mungilnya yang tanpa lipstip, “semangat dan hati-hati di jalan seoga sampai pada tujuan dan semoga sukses”. Ini mengesankan! Karena aku  sekalian mengambil uang untuk ongkos perjalanan selama ke musi rawas. Takperlu kusebut jumlah uangya, yang jelas cukup untuk membeli mulut-mulut orang yang iri dan selalu meremehkan kami BKI!.
    Tampaknya si hujan tak rela aku pergi, karena ribuan air tumpah lebih deras, dan semakin deras. Pepohonan yang melihat kami tampak iri di tunjukan dengan bergoyang kekanan kekiri bak senam gemu fa mi re.
    Namun semua itu tak membuat ku layu, ku ambil kontak ku hidupkan mesin motor, masukkan gigi 1 dan tancap gas, “Sial!” szrokkkkk..... “alhamdulillah aku masih selamat”, orang-orang dari dalam jurusan dakwah berlari keluar melihat apa yang terjadi, namun tak melihat ada kecelakaan. Dengan gesit ku putar motor tancap gas, karena malu banyak dosen- dosen yang melihat.
    Sampailah di ruang prodi BKI, teman-teman ku ternyata menanti dengan penuh harap cemas, melihatku mereka sumringah. Pak Naf, Pak Af, dan dang Mukmin tampak senang dan lega memandangku. Kuparkirkan motor, kulepas jaket yang sudah basah terguyur oleh berkahnya hujan, ku gantungkan di papan pengumuman PGMI, karena ruang prodi BKI dan PGMI bersebelahan.  Langsung lah di pasang terpal yang aku bawa tadi di atas mobil oleh Pak Af, Firdaus, Andre, dan Anugrah, alahamdulillah terpasanglah sudah terpal pelindung sementara dari guyuran hujan.
    Tak terasa adzan maghrib berkumandang, ku ajak teman teman ambil wudhu lalu sholat berjamaah. Andre menjadi Imam sholat maghrib karena ia yang bersedia. Sebelum Isya kami berangkat dengan pesangon doa dari Fero juga teman teman yang lain seperti Delut dengan nama asli Dela Julia Lestari, Nur Khotim dan Cek Irna, di tambah uang dari Pak Naf untuk beli bensin. Tak lupa kami sempat foto bersama dengan seluruh team pertama pejuang BAKOMAS. Kameramen oleh istrinya Pak Naf, yang sampai Aku tulis sepotong episode kehidupan ini Aku tak tau siapa nama aslinya. Aneh, lucu dan ya ntahlah, padalah kami sering mengobrol apalagi saat aku kurng enak badan. Karena beliau perawat di UKK (Unit Kesehatan Kampus STAIN Curup). Andre dan Endrik mengendarai sepeda motor, sementara Aku, Firdaus, Kris, Heny, Emil, duduk di bak mobil bersama tenda dan barang barang keperluan lainnya, seperti kenek. Sedangkan Nurma, Ria, dan Anugrah duduk di kursi depan. Mobil  melaju dengan santai dan pasti, berhenti di pasar tengah teapnya di depan Vihara simpang Lebong  makan gorengan karena lapar. Lanjut lagi berhenti di Suban Ayam beli minun, karena kehausan.
    Malam itu mencekam, gerimis diiikuti kabut di daerah pelalo, ku telpon Iskandar lelaki tinggi yang usianya jauh lebih duluan dari Aku, ia asli orang Palak Curup yang konon katanya daerah rawan. Naasnya signal indosat hilang timbul, namun tetap ku telpon. Hingga akhirnya kami bertemu di sekitaran air terjun tangga seribu yang sempat menjadi destinasi wisata lembak, entah karena apa akhirnya di tutup. Iskandar dan rekannya mengawal kami hingga masuk perbatasan desa Palak Curup dengan PUT (padang Ulak tanding). Masuk wilayah PUT tampak dua motor tiga orang lelaki tanggung yang tak mau memberi kami jalan untuk lewat, lantas aku berpikir “jika orang itu mau macam-macam, aku siap menghajarnya”. Hingga di jalan yang agak lebar kami balap mereka.
    Disela sela perjalanan aku memperhatikan mereka satu persatu, Kris sibuk dengan mendengarkan ntah apa dengan earphonenya, Heni tampak tekapar tak berdaya, sepertinya karna faktor cuaca, Emil yang menjadi bahu senderan Heny tetap tegar karena meraka berdua sudah berteman sejak lama, Firdaus juga yang tampak kesal dengan hpnya karena tak mendapat signal akhirnya tertidur. Tampak di kursi depan Ria tertidur bersandar di bahu Anugrah, maka bertambahlah beban anugrah selain harus konsentrasi mengendarai mobil harus memikul beban ria, padahal di sebelah kiri ria ada nurma, karen memang ria tergolong lelaki yang gk pecicilan, makan ia lebih memilih bahu Anugrah daripada bahu Nurma.
    Meliahat mereka Aku merasa sedang bermain film drama korea, seperti Dilan 1990 dari Indonesia yang terkenal dengan keromantisannya dan juga film 5 cm karena persahabatannya yang luar biasa.
    Tak terasa sampailah di Wates, perbatasan Rejang Lebong dengan Lubuk Linggau. Ternya mobil kami di berhentikan oleah TPR Wates, sayu-sayu kudengar dari balik terpal petugas TPR itu menanyakan perihal surat-surat, juga memeriksa bawaan mobil kami, dan mengatakan “tahu salahnya Pak?”  tanya petugas TPR ke Anugrah, “apa?” jawab Anugrah. “ini adalah mobil barang tidak boleh untuk mengangkut penumpang!” . “ooo, saya baru tau pak!!” . “anda melanggar peraturan xx”. “jadi gimna pak?!”. “ya anda harus bertanggung jawab, uang rokok ajalah!”. “bentar Pk saya telpon kk saya yang ada di kodim, kerena ini tenda kodim”. “heh sudah sudah  saya juga ada keluarga di PM, bayar retribusi aj!!” Begitulah kira kira percakapan Anugrah dengan petugas TPR Lubuk Linggau.
    Firdaus dan Kris sibuk bertanya “berapa lama lagi?” jam menunjukan di angka sembilan. Ku jawab “satu jam lagi kita sampai”. Meraka lanjut tidur lagi. Ntah bagaimana bisa mereka tidur nyenyak di atas tumpukan selang dan tenda, bahkan tampak sedang bermimpi. Masuklah kami di kecamatan Sumberharta lalu Purwodadi, artinya rumah Emil tak jauh lagi, jalanan di tengah kebun karet dan sawit,  sempit dan berlobang memecah suansana malam yang mencekam, karena kehebohan kami.. Firdaus, lelaki kocak itu berkata “Anug pelan pelan kami belum nikah..!!!” di sahut lah olel Emil dan Heny, “belum sunnah rosul, pas nian pulo malam ini malam jum’at”, ntah dariman merak dapat kata-kata itu, yang jelas mampu membuat kami tertawa, tak di sangka Kris menyahut “sunnah rasul itu yang pas jum’at habis subuh”.. maka kami berempat tertawalah hingga lupa ngantuk. Dari dalam mobil, Nurma berteriak “pelan-pelan supir gilo.!!!” Julukan baru untuk Anugrah. Emil pun tak kalah “woy pelan pelan sopir gilo!!!!”...
    Firdaus mengalihkan perhatian dengan mengatakan, “kalo sampai pokoknya Aku nak makan, omong samo mak kau Mil, siapkan makanan banyak-banyak”. “iyo iyo, sudah.. malah mak aku lah masak dari sebelum kito berangkat tadi bang” jawab emil. Kris pun tak sabar, “berapa menit lagi mil?”. “3 menit lagi” jawab emil. “nian eh kuhitung ya” . “iyo”. “nah mil lah lewat 3 menit”. “iyo bang, jalannyo buruk soalnyo”,... dan akhirnya berakhirlah penderitaan kami, mulai dari menerabas hujan dan dingin hingga guncangan jalan berlubang seperti tiada berujung. “Alahmdulilllah sampai!!!” ucapan itu spontan di ucapkan oleh kami tanpa aba-aba dengan penuh semangat.
    (bersambung)...........................

    No comments

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728