CINTA, BAKTI, RINDU BAKOMAS
CINTA, BAKTI
DAN RINDU BAKOMAS
Episode 1,
“Malam
Pertama Sunnah Rasul.. “:D
Kamis Sore 22
maret 2018, kami bersiap berangkat untuk bakti konseling masyarakat, terlihat ada
Bpk Nafrial, M.Ed selaku penanggung jawab BAKOMAS juga sebagai ketua prodi BKl,
ada juga Bpk Afrizal, M.Pd yang bertubuh gempal, berkulit putih mirip keturunan
china, bermuka bulat, rambut yang agak sedikit botak di bagian depan, mungkin
karena banyaknya yang di pikirkan, juga
dang Mukmin seorang lelaki yang bertubuh kecil bahkan sempat di teropong oleh
siswanya ketika PPL, merupakan staf handal dari prodi BKI bahkan sampai-sampai Pak
Nafrial akan mundur dari jabatan ketua prodi jika dang Mukmin di pindah
tugaskan.
Waktu menunnjukkan
pukul 14.00 kami memasukkan barang barang ke dalam mobil pik up grand max, mulai
dari seperangkat tenda, kompor, ember, baskom, terpal, sapu, tikar,tabung gas,
piring, sendok dan seprangkat mandi yang kami perlukan. Kami susun secara rapi,
lalu kami mengikatnya dengan kuat agar tidak terjadi hal hal yang tidak di
inginkan.
Aku, Anugrah, Endrik,
Ria Saputra, Andre, Firdaus, Krisyawa, Emil, Heni, juga Nurmayanti adalah team
pertama yang berangkat lebih dulu untuk persiapan bakomas.
Anugrah adalah mahasiswa semester 2 B, bertubuh kurus dengan otot
yang gk juga sispek, tetapi sok sokan gaya binaraga karena kesukaannya memakai
singlet, kulit hitam namun tak sehitam arang. Serta cukuran cepak membuat orang
melihatnya sedikit seram. Tapi tidak. Hidung yang tak begitu mancung, dengan
bibir tipis di lengkapi kumis yang tanggung antara ada dan tiada. Hampir mirip
dengan aktor Holywood ala gue..
Endrik adalah
lelaki yang bertubuh tinggi menjulang ke angkasa, sok sokan, hitam manis,
hidung mancung seperti petruk yang menjadi dambaan orang-orang, waktu itu ia
mengenakan jaket yang berwarna hitam ke hiaju-hijauan yang berbahan parasut,
mengenakan tas berwarna hitam yang di tutup olehmantel tas. Mata sinis, bibir
tipis juga kumisnya membuat orang yang melihatnya merasa bertemu dengan
pangeran ala BKI.
Ria saputra
sosok lelaki yang pendiam, tak banyak bicara dengan julukan “ACC” karena jika
di minta apaun selalu ACC, dan perkaataan lainnya yaitu “Jadi Aman Makso Nian”
walaupun dia adalah murni asli keturunan jawa, ketawanya yang polos dan
wajahnya yang lumayan tidak membosankan, menurut 3 orang wanita dari geng nya
yang hanya 4 orang, namun begitu ia tetap aksis di antara teman-temannya yang
lain. Kulitnya tak separah Anugrah, hidungnya tak semancung Endrik, ah pokoknya
Khas Jawa lah.
Andre, lelaki
muda bertubuh gempal berkulit hitam berwajah sangar mengingatkan ku kepada
sosok orang yang paling ku takuti, yaitu orang di sekitar rumah ku dulu, rambut
yang agak keriting di bagian depan, hidung yang mancung, beralis tebal. Namun dia
adalah orang yang paling bersemangat dalam mengadakan kegiatan BAKOMAS ini, dia
adalah sosok orang yang menyelesaikan masalah sebab ia berasal dari Musi Rawas juga,
ia rela berhujan hujanan untuk berangkat dan menyiapkan keperluan Bakomas. Kalo
saya mengatakan ia adalah pahlawan Bakomas.
Firdaus, lelaki
kelahiran lahat, bertubuh sedang, rambut hitam disisir pinggir kanan, alis
tebal hidung mancung, berbibir tipis, berkulit hitam tapi sawo matang, dengan
baju kemeja dan celana dasar dan tas kecil yang selalu di tentangnya entah apa
isisnya. Sering di panggil abang oleh rekan seangkatannya. Bicaranya yang kocak
dan ceplas ceplos membuat orang di sekitarnya tak bisa berhenti tersenyum,
macam Sule. Pelawak tanpa tanda jasa.
Pk Ustad, begitulah
sapaan akrab dari Kris, lelaki bertubuh tinggi dengan badan sedang ini adalah
lulusan dari pesantren gontor, saat ini sebagai ustad di pesantren Darussalam
Kepahyang, Rambut rapi ala Ustad zaman now, mata jengkol, hidung mancung, pipi
bakpau, berbibir sedang, beberapa jenggot tumbuh di dagunya mengikuti sunnah
rasul, berkulit putih bersih karena selalu menjaga wudhu. Ia yang selalu
menasehati dan mengingatkan kami ketika
ada sesuatu yang salah menurut syari’at Islam. Kami sering menyebutnya Pak
Hasta ke dua yang merupakan Dosen juga Ustad kondang di sekitar Rejang Lebong.
Emil, adalah
sosok cewek yang aktif, saking aktifnya semua orang sampe di baperi dengan
segala cara dan upaya demi kesenangannya. Namun ialah perantara penolong kami
ketika di Musi Rawas, mulai dari penginapan, makan, dan jamuan lainnya yang di
berikan olehnya juga keluarganya. Rambutnya yang entah seperti apa karena hijab
yang selalu menutupnya. Hidung yang tak juga terlalu mancung, berkulit juga tak
jelas karena baju panjang yang menutupnya, merupakan gadis keturunan Lembak.
Walau begitu ia bisa bahasa Jawa karena hidup di lingkungan jawa yang membuat
ia banyak teman.
Heni, gadis bertubuh
kurus, namun semangatnya tak pernah lebih kurus dari badannya, tingginya yang
juga luamayan untuk takaran seorang perempuan, wajah lonjong menunjukkan
kepolosannya yang di sembunyikan dari senyum manis di wajahnya. Kulit sawo
matang menambah syahdu, kerena mendung menyelimuti. Hidung mancung dan mata
lebar mengisyaratkan bahwa ia adalah perhiasan dunia.
Nurmayanti mahasiswi
bertubuh bulat, berwajah bulat, sampai obrolannya pun ikut bulat dalam artian
gak pernah kehabisan bahan untuk mengobrol, bagaikan radio yang gak pernah
kehabisan signal menghibur kami dalam persiapan juga dalam perjalanan, pun juga
dalam pelaksanaan dan kesehariannya. Nurma ibarat embun penyejuk dalam
ketenggangan, lelucon dari bibir mungilnya selalu muncul, berbanding lurus
dengan Firdaus.
Aku, adalah
bocah dari keturunan Jawa. temanku akrab memanggilku Sigit, karena itu memang
namaku Muhammad Sigit Santoso. Bocah kecil dengan ukuran tubuh mungil, kurus,
bermuka persegi dan manis, rambut ala mantan Presiden, SBY. Hidung yang tak
mancung namun eksotis, bermata jeli.
Kulit kuning manis sawo matang, saat itu aku di amanahkan menjadi ketua penitia
BAKOMAS. Hingga aku berpikir alangkah indah jika peristiwa ini di jadikan
sebuah kenagan indah agar generasi penerus sepeti anda yang sedang membaca
dapat mengambil i’tibar dan pelajaran dari sepotong episode kehidupan ini.
Lantas aku tulis sepatah dua patah kata yang di patahkan menjadi ribuan patah
kata terangkai dalam satu judul, mensyiratkan banyak makna.
Tak terasa
sudah pukul 17.30, persiapan akhirnya selesai,
berkahnya ketika kami hendak berangkat si hujan pun datang menghampiri
dengan begitu derasanya. Lantas aku terabas si hujan dengan sepeda motornya Endrik,
hanya dengan mengenakan jaket kopma, gigil mengigil di dalam tulang, mengambil terpal, mampir menemui Feronika.
Feronika merupakan perempuan keturunan jawa cirebon yang berparas cantik,
dengan gigi yang tak rata, kulit tak juga hitam, bisa di sebut kuning sawo
layaknya orang jawa, lesung pipinya yang
tak begitu dalam menambah syahdu hujan di sore itu, menemuiku dengan mengenakan
mukena berwarna biru membuat si hujan tak kunjung lekang, air yang menetespun
bak aksara china yang tampak kacau, padahal sudah di atur oleh Sang Maha Kuasa.
Pertemuan
singkat sore itu, tertitip pesan dari bibir mungilnya yang tanpa lipstip,
“semangat dan hati-hati di jalan seoga sampai pada tujuan dan semoga sukses”. Ini mengesankan! Karena aku sekalian mengambil uang untuk ongkos
perjalanan selama ke musi rawas. Takperlu kusebut jumlah uangya, yang jelas
cukup untuk membeli mulut-mulut orang yang iri dan selalu meremehkan kami BKI!.
Tampaknya si
hujan tak rela aku pergi, karena ribuan air tumpah lebih deras, dan semakin
deras. Pepohonan yang melihat kami tampak iri di tunjukan dengan bergoyang
kekanan kekiri bak senam gemu fa mi re.
Namun semua itu
tak membuat ku layu, ku ambil kontak ku hidupkan mesin motor, masukkan gigi 1
dan tancap gas, “Sial!” szrokkkkk..... “alhamdulillah aku masih selamat”,
orang-orang dari dalam jurusan dakwah berlari keluar melihat apa yang terjadi,
namun tak melihat ada kecelakaan. Dengan gesit ku putar motor tancap gas,
karena malu banyak dosen- dosen yang melihat.
Sampailah di
ruang prodi BKI, teman-teman ku ternyata menanti dengan penuh harap cemas,
melihatku mereka sumringah. Pak Naf, Pak Af, dan dang Mukmin tampak senang dan
lega memandangku. Kuparkirkan motor, kulepas jaket yang sudah basah terguyur
oleh berkahnya hujan, ku gantungkan di papan pengumuman PGMI, karena ruang
prodi BKI dan PGMI bersebelahan. Langsung lah di pasang terpal yang aku bawa
tadi di atas mobil oleh Pak Af, Firdaus, Andre, dan Anugrah, alahamdulillah
terpasanglah sudah terpal pelindung sementara dari guyuran hujan.
Tak terasa
adzan maghrib berkumandang, ku ajak teman teman ambil wudhu lalu sholat
berjamaah. Andre menjadi Imam sholat maghrib karena ia yang bersedia. Sebelum Isya
kami berangkat dengan pesangon doa dari Fero juga teman teman yang lain seperti
Delut dengan nama asli Dela Julia Lestari, Nur Khotim dan Cek Irna, di tambah
uang dari Pak Naf untuk beli bensin. Tak lupa kami sempat foto bersama dengan
seluruh team pertama pejuang BAKOMAS. Kameramen oleh istrinya Pak Naf, yang
sampai Aku tulis sepotong episode kehidupan ini Aku tak tau siapa nama aslinya.
Aneh, lucu dan ya ntahlah, padalah kami sering mengobrol apalagi saat aku kurng
enak badan. Karena beliau perawat di UKK (Unit Kesehatan Kampus STAIN Curup). Andre
dan Endrik mengendarai sepeda motor, sementara Aku, Firdaus, Kris, Heny, Emil,
duduk di bak mobil bersama tenda dan barang barang keperluan lainnya, seperti
kenek. Sedangkan Nurma, Ria, dan Anugrah duduk di kursi depan. Mobil melaju dengan santai dan pasti, berhenti di
pasar tengah teapnya di depan Vihara simpang Lebong makan gorengan karena lapar. Lanjut lagi
berhenti di Suban Ayam beli minun, karena kehausan.
Malam itu
mencekam, gerimis diiikuti kabut di daerah pelalo, ku telpon Iskandar lelaki
tinggi yang usianya jauh lebih duluan dari Aku, ia asli orang Palak Curup yang
konon katanya daerah rawan. Naasnya signal indosat hilang timbul, namun tetap
ku telpon. Hingga akhirnya kami bertemu di sekitaran air terjun tangga seribu
yang sempat menjadi destinasi wisata lembak, entah karena apa akhirnya di
tutup. Iskandar dan rekannya mengawal kami hingga masuk perbatasan desa Palak
Curup dengan PUT (padang Ulak tanding). Masuk wilayah PUT tampak dua motor tiga
orang lelaki tanggung yang tak mau memberi kami jalan untuk lewat, lantas aku
berpikir “jika orang itu mau macam-macam, aku siap menghajarnya”. Hingga di
jalan yang agak lebar kami balap mereka.
Disela sela
perjalanan aku memperhatikan mereka satu persatu, Kris sibuk dengan
mendengarkan ntah apa dengan earphonenya, Heni tampak tekapar tak berdaya,
sepertinya karna faktor cuaca, Emil yang menjadi bahu senderan Heny tetap tegar
karena meraka berdua sudah berteman sejak lama, Firdaus juga yang tampak kesal
dengan hpnya karena tak mendapat signal akhirnya tertidur. Tampak di kursi
depan Ria tertidur bersandar di bahu Anugrah, maka bertambahlah beban anugrah
selain harus konsentrasi mengendarai mobil harus memikul beban ria, padahal di
sebelah kiri ria ada nurma, karen memang ria tergolong lelaki yang gk
pecicilan, makan ia lebih memilih bahu Anugrah daripada bahu Nurma.
Meliahat mereka
Aku merasa sedang bermain film drama korea, seperti Dilan 1990 dari Indonesia
yang terkenal dengan keromantisannya dan juga film 5 cm karena persahabatannya
yang luar biasa.
Tak terasa
sampailah di Wates, perbatasan Rejang Lebong dengan Lubuk Linggau. Ternya mobil
kami di berhentikan oleah TPR Wates, sayu-sayu kudengar dari balik terpal
petugas TPR itu menanyakan perihal surat-surat, juga memeriksa bawaan mobil kami,
dan mengatakan “tahu salahnya Pak?”
tanya petugas TPR ke Anugrah, “apa?” jawab Anugrah. “ini adalah mobil
barang tidak boleh untuk mengangkut penumpang!” . “ooo, saya baru tau pak!!” .
“anda melanggar peraturan xx”. “jadi gimna pak?!”. “ya anda harus bertanggung
jawab, uang rokok ajalah!”. “bentar Pk saya telpon kk saya yang ada di kodim,
kerena ini tenda kodim”. “heh sudah sudah
saya juga ada keluarga di PM, bayar retribusi aj!!” Begitulah kira kira
percakapan Anugrah dengan petugas TPR Lubuk Linggau.
Firdaus dan Kris
sibuk bertanya “berapa lama lagi?” jam menunjukan di angka sembilan. Ku jawab “satu
jam lagi kita sampai”. Meraka lanjut tidur lagi. Ntah bagaimana bisa mereka
tidur nyenyak di atas tumpukan selang dan tenda, bahkan tampak sedang bermimpi.
Masuklah kami di kecamatan Sumberharta lalu Purwodadi, artinya rumah Emil tak
jauh lagi, jalanan di tengah kebun karet dan sawit, sempit dan berlobang memecah suansana malam
yang mencekam, karena kehebohan kami.. Firdaus, lelaki kocak itu berkata “Anug pelan
pelan kami belum nikah..!!!” di sahut lah olel Emil dan Heny, “belum sunnah
rosul, pas nian pulo malam ini malam jum’at”, ntah dariman merak dapat
kata-kata itu, yang jelas mampu membuat kami tertawa, tak di sangka Kris menyahut
“sunnah rasul itu yang pas jum’at habis subuh”.. maka kami berempat tertawalah
hingga lupa ngantuk. Dari dalam mobil, Nurma berteriak “pelan-pelan supir
gilo.!!!” Julukan baru untuk Anugrah. Emil pun tak kalah “woy pelan pelan sopir
gilo!!!!”...
Firdaus
mengalihkan perhatian dengan mengatakan, “kalo sampai pokoknya Aku nak makan,
omong samo mak kau Mil, siapkan makanan banyak-banyak”. “iyo iyo, sudah.. malah
mak aku lah masak dari sebelum kito berangkat tadi bang” jawab emil. Kris pun
tak sabar, “berapa menit lagi mil?”. “3 menit lagi” jawab emil. “nian eh
kuhitung ya” . “iyo”. “nah mil lah lewat 3 menit”. “iyo bang, jalannyo buruk
soalnyo”,... dan akhirnya berakhirlah penderitaan kami, mulai dari menerabas
hujan dan dingin hingga guncangan jalan berlubang seperti tiada berujung.
“Alahmdulilllah sampai!!!” ucapan itu spontan di ucapkan oleh kami tanpa
aba-aba dengan penuh semangat.
(bersambung)...........................
No comments