Header Ads

ad728
  • Breaking News

    episode 2


    Episode 2
    “Penampakan”
    Kami tiba tepat pukul 22.00 WIB, langsung di sambut hangat oleh orang tua Emil, “hayo silahkan masuk, baru sampe ya?”
    “iya Bu” jawab kami.
    Kami pun bergantian bersalaman dengan orang tua Emil, sebagai tanda penghormatan kepada orang yang lebih tua. Setelah bersalaman orang tua Emil masuk, mungkin menyiapkan minum. Di iringi Heni dan Nurma, yang mungkin sudah gk tahan mau ke WC. Sementara Emil dan kami masih berada di luar rumah, karena kepala yang sedikit pusing. Menikmati udara segar dari pedesaan membuat nyaman dari pada di balik terpal.
    “Emil suruh kawannmu masuk!” dengan menggunkan nada sedikit tinggi khas suku Musi.
    “Iyo Mak”
    “ayo weh masuk!”
    “iyo Mil” jawab kami.
    Kris, Anugrah, Endrik, Andre dan Ria, masuk ke Rumah. Sedangkan Aku dan Firdaus bergeriliya mencari jambu kristal, kalo Emil menyebutnya jambu apel, kerena tidak ada bijinya. Dengan senter HP aku mencari dan melihat dengan jeli, “Yes!”.
    “ngapo kk?” .tanya firdaus.
    “ketemu”
    “apanyo yang ketemu kk?”
    “jambu, hii” (sambil meringis)
    “mano pulo ado jambu?”
    “tuh!”
    “mana?!!”
    “itu na.!!, di balik daun”
    “apo jambu itu kk?”
    “iyo Dak Usss!!, Gih ambil pisau!”
    “e, i i iya kk” (sambil berlari)
    Ternyata setelah ku telusuri lebih dalam ada tiga jambu yang bisa di panen, ukurannya yang sebesar bola kasti, bahkan terkdang ada yang lebih bsar, berwarna hijau muda, dengan bentuk yang tak beraturan, seperti hidupnya Endrik, tapi untungnya jambu ini lebih parah.
    “ini kak pisaunya”
                “sini,! tuh petik yang di ujung”
                “ok”
                “pelan pelan! Jangan sampe yang lain ikut terpotong!”
                “iya kak”
                “hati hati, malam, gelap. nanti jatuh”
                Aku menerangi dengan menggunakan senter HP, sedangkan Firdaus yang memetiknya.
                “ini kak sudah”
                “ok, itu juga yang sebelahnya”
                “ok kk”
    Pohonnya yang hanya setinggi badanku, bahkan malah lima cm lebih tinggi dari badanku
    Memudahkan kami memanen jambu kristal tersebut, serasa tanaman sendiri.. ahahah, muncullah ide kotor ku, benar kata bang Napi, kejahatan bukan terjadi karena kesengajaan tapi karena ada kesempatan, waspadalah! Waspaalah!...
                “daus,!”
                “iya kak”
                “ini kan ada tiga jambu”
                “iya kak”
                “nah yang satu kita makan disini aja, baru yang dua kita bawa masuk rumah”
                “wah jadilah aman cak itu kk, lapa pulo kk”
                Firdaus ternnyata mendukung ku sepenuh hati untuk menyukseskan misi ku dalam melahap jambu kristal yang satu buah, aku belah, dan ku bagi dengan Firdaus. Wuihh mantap, manis di lidah, seperti wajahku, kata temenku yang ntah berantah,haha..  renyah saat di kunyah, hingga menimbulkan suara “kress-kress”, sejuk ketika di telan, perut terasa terganjal ibarat embun penyejuk dalam kehausan. Pokoknya is the lezat bingits, maknyussss.
                Sementara itu temen teman yang lain tidak tau kalo Aku dan Firdaus menyantap jambu di luar. Aku berpikir, “aneh, gak biasanya mereka begini, apakah meraka kecapek’an, ataukah mereka... ah entahlah“. Rasa penasaran ku timbul ketika itu, karena Aku dari saat tiba sampai menghabiskan
    satu buah jambu, belum masuk ke rumah Emil.maafkaeunlah kawan, hahah....
                Aku dan Firdaus pun masuk, aku terkejut melihat sesuatu di depan mataku, pemandangan yang begitu membuatku merasa rada-rada gimana gitu, langsung aku memalingkan wajahku di sudut ruangan, aku manganggap itu adalah hal yang tidak baik, ntah dengan Firdaus, mungkin dia biasa melihat hal-hal yang seperti itu, tampak dari wajahnya yang begitu polos dan lugu kayak setrika, datar. sepertinya inilah jawaban dari gumaman ku saat di luar, kenapa meraka- meraka tidak seperti biasanya dan betah di dalam, yah karena ada pemandangan di depan bola matanya. Baik dari Anugrah hingga Ria yang lugu dan polos bahkan Kris yang di panggil sebagai ustad tak henti hentinya memandang penampakan itu. Astaghfirullah......

    No comments

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728