episode 2
Episode 2
“Penampakan”
Kami
tiba tepat pukul 22.00 WIB, langsung di sambut hangat oleh orang tua Emil, “hayo
silahkan masuk, baru sampe ya?”
“iya Bu” jawab
kami.
Kami
pun bergantian bersalaman dengan orang tua Emil, sebagai tanda penghormatan
kepada orang yang lebih tua. Setelah bersalaman orang tua Emil masuk, mungkin
menyiapkan minum. Di iringi Heni dan Nurma, yang mungkin sudah gk tahan mau ke
WC. Sementara Emil dan kami masih berada di luar rumah, karena kepala yang
sedikit pusing. Menikmati udara segar dari pedesaan membuat nyaman dari pada di
balik terpal.
“Emil suruh
kawannmu masuk!” dengan menggunkan nada sedikit tinggi khas suku Musi.
“Iyo Mak”
“ayo weh masuk!”
“iyo Mil” jawab
kami.
Kris,
Anugrah, Endrik, Andre dan Ria, masuk ke Rumah. Sedangkan Aku dan Firdaus
bergeriliya mencari jambu kristal, kalo Emil menyebutnya jambu apel, kerena
tidak ada bijinya. Dengan senter HP aku mencari dan melihat dengan jeli, “Yes!”.
“ngapo
kk?” .tanya firdaus.
“ketemu”
“apanyo
yang ketemu kk?”
“jambu,
hii” (sambil meringis)
“mano
pulo ado jambu?”
“tuh!”
“mana?!!”
“itu
na.!!, di balik daun”
“apo
jambu itu kk?”
“iyo
Dak Usss!!, Gih ambil pisau!”
“e,
i i iya kk” (sambil berlari)
Ternyata
setelah ku telusuri lebih dalam ada tiga jambu yang bisa di panen, ukurannya
yang sebesar bola kasti, bahkan terkdang ada yang lebih bsar, berwarna hijau
muda, dengan bentuk yang tak beraturan, seperti hidupnya Endrik, tapi untungnya
jambu ini lebih parah.
“ini
kak pisaunya”
“sini,! tuh petik
yang di ujung”
“ok”
“pelan pelan! Jangan
sampe yang lain ikut terpotong!”
“iya kak”
“hati hati, malam,
gelap. nanti jatuh”
Aku menerangi
dengan menggunakan senter HP, sedangkan Firdaus yang memetiknya.
“ini kak sudah”
“ok, itu juga yang
sebelahnya”
“ok kk”
Pohonnya yang hanya setinggi badanku, bahkan malah lima cm lebih
tinggi dari badanku
Memudahkan kami memanen jambu kristal tersebut, serasa tanaman
sendiri.. ahahah, muncullah ide kotor ku, benar kata bang Napi, kejahatan bukan
terjadi karena kesengajaan tapi karena ada kesempatan, waspadalah! Waspaalah!...
“daus,!”
“iya kak”
“ini kan ada tiga
jambu”
“iya kak”
“nah yang satu
kita makan disini aja, baru yang dua kita bawa masuk rumah”
“wah jadilah aman
cak itu kk, lapa pulo kk”
Firdaus ternnyata
mendukung ku sepenuh hati untuk menyukseskan misi ku dalam melahap jambu kristal
yang satu buah, aku belah, dan ku bagi dengan Firdaus. Wuihh mantap, manis di
lidah, seperti wajahku, kata temenku yang ntah berantah,haha.. renyah saat di kunyah, hingga menimbulkan
suara “kress-kress”, sejuk ketika di telan, perut terasa terganjal ibarat embun
penyejuk dalam kehausan. Pokoknya is the lezat bingits, maknyussss.
Sementara itu
temen teman yang lain tidak tau kalo Aku dan Firdaus menyantap jambu di luar. Aku
berpikir, “aneh, gak biasanya mereka begini, apakah meraka kecapek’an, ataukah
mereka... ah entahlah“. Rasa penasaran ku timbul ketika itu, karena Aku dari
saat tiba sampai menghabiskan
satu buah jambu, belum masuk ke rumah Emil.maafkaeunlah kawan,
hahah....
Aku dan Firdaus
pun masuk, aku terkejut melihat sesuatu di depan mataku, pemandangan yang
begitu membuatku merasa rada-rada gimana gitu, langsung aku memalingkan wajahku
di sudut ruangan, aku manganggap itu adalah hal yang tidak baik, ntah dengan
Firdaus, mungkin dia biasa melihat hal-hal yang seperti itu, tampak dari
wajahnya yang begitu polos dan lugu kayak setrika, datar. sepertinya inilah jawaban
dari gumaman ku saat di luar, kenapa meraka- meraka tidak seperti biasanya dan
betah di dalam, yah karena ada pemandangan di depan bola matanya. Baik dari Anugrah
hingga Ria yang lugu dan polos bahkan Kris yang di panggil sebagai ustad tak
henti hentinya memandang penampakan itu. Astaghfirullah......
No comments