Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Malas!


                                            Picture from google
     
    Malas!
    By: Muhammad Sigit S
    A

    dalah titik dimana tidak ingin melakukan sesuatu, tidak diketahui apa sebabnya. Misalnya malas membaca. Padahal sebagai mahasiwa, suka tidak suka, mau tidak mau harus membaca, baik itu membaca cepat, tersirat ataupun yang lainnya. Tugas kuliah yang begitu menumpuk itu perlu kalian bariskan agar tidak menumpuk, lalu Kerjakan!. Jangan hanya di pandang, di sawang, apalagi di tinggal tidur serta berharap setalah bangun tugas akan selesai. Tapi sebenarnya bisa, sebab hal itu pernah terjadi. Minggu lalu temanku yang masih mahasiswa dengan banyaknya tugas yang berbaris, karena sudah ia bariskan seperti saranku, bercerita. Melalui pesan singkat di WA. “Assalamu’alaikum” sapa temanku. Saat itu sudah pukul satu dini hari. “waalaikumussalam” jawabku singkat, dengan mata sedikit sayu. “Aku mau cerita”. “silahkan saja, jika masih kuat langsung ku balas ceritamu, jika tidak esok atau lusa ku balas”. Jawabku.

    Begini cerita temanku:
    Setelah isya Aku mengerjakan tugas sambil berbaring. Dan tugasku selesai. Tapi aku sangat tidak yakin jika itu selesai, kulihat lagi, ku cek lagi, ternyata memang selesai. Lagi, hati kecilku belum yakin, siapa tau ini hanya mimpi. namun tak lama Ibuku memanggilku dari dapur. ”Oh sial ini mimpi”. Ternyata tugasku belum selesai. Bergegas aku menuju dapur, aku sangat terkejut. Ibuku tidak ada, dan benar masih tidur pulas di kamar dengan adik kecilku. Kakiku gemetar dengan begitu hebatnya, lalu aku datangi Ibuku dan bertanya, “apa ibu tadi memanggilku.?” “Tidak, kamu ngiggau.?” “Apa iya ya.?”tanyaku penasaran. “Iya.” Jawab ibuku, Plakk.. tamparan ke pipi kanan oleh ibuku. Oh benar, ternyata hari masih pagi, subuhpun belum sampai. Kembali aku bergegas mengerjakan tugas yang belum selesai, kukerjakan dengan santai, teliti dan hati-hati, sebab jam delapan pagi sudah harus di kumpul. Belum sampai jam enam pagi, tugasku akhirnya rampung ku kerjakan. Aku mandi, lalu sarapan dan bergegas berangkat ke sekolah. Seperti biasa aku menunggu angkot di pinggir jalan, setelah beberapa menit datanglah angkot yang mengarah kesekolahku, angkot ini tidak seperti biasanya. Hanya ada aku, sopir angkot dengan wajah yang begitu sinis, dan kakek tua yang mukanya begitu menyeramkan dengan tas cokelat besar di sampingnya. Pisau, gunting dan cangkul tak luput dari pandanganku. Mobilpun melaju dengan santai, aku pun tertidur.

    Tiba-tiba mobil yang ku naiki melintas jalan yang berbeda, entah aku di bawa kemana, sepertinya kehutan. Aku bertanya pada sopir, dan hanya di jawab dengan meringis getir. Kakek tua itu mulai mengambil pisaunya. Lalu kami berhenti di tengah hutan di sebuah pondok kecil, tercium aroma yang begitu menyengat, bau bangkai tepatnya. Kakek tua dan sopir mengahampiriku dengan wajah yang sangat menyeramkan, pisau dan cangkul menghunus ke depanku. Dan dugggg.... kepalaku terantuk jendela mobil. Oh hanya mimpi.

    Mobil berhenti dan aku semakin terkejut, kali ini persis di tengah hutan dengan pondok kecil. Bau bangkai yang sangat menyengat. Kakek tua dan sopir menatapku kejam. Seperti dimimpiku tadi, anehnya disana ada beberapa temanku yang ku kenal, termasuk kamu, dan ada guru dari sekolah kita yang sudah siap dengan mistar panjang menyerupai pedang. Terlihat beberapa temanku sedang dianiaya oleh seseorang, ada yang di gantung, ada yang tusuk dengan besi panas. Di congkel matanya, diiris telinganya. Badanku mati rasa, keringat bercucuran. Jantungku berdebar dengan sangat kencang. Miris, marah, kesal dan yang paling besar adalah takut, semua rasa bercampur aduk menjadi satu, melihat teman-temanku di cincang bak ayam panggang. Terdengar seseorang memanggil daftar nama sesuai absen, aku urutan ke-16 dan sekarang sudah urutan ke-14. Semakin panik, takut dan bingung akan semua kejadian ini. Aku berdo’a semoga ini hanya mimpi, tapi ada suara yang membisikan ke telingaku dan mengatakan bahwa ini nyata, bukan mimpi. Di tambah Teriakan teman-temanku yang sedang di mutilasi hidup-hidup mengacaukan keyakinanku bahwa ini hanya mimpi, tangis dan permohonanku tak di hirau oleh mereka, malah mereka asyik dengan temanku yang masih hidup tapi jari tangannya sudah hilang lima. Akupun mencoba lari menyelamatkan diri, gunting, pisau, batu semuanya dilempar ke arahku, dengan sigap aku menghindar, lari entah kemana sekuat tenaga.

    Sudah sekian jam aku lari, dengan nafas tersengal. Aku dehidrasi, terdengar ada gemericik air. Ku susuri suara itu, yah benar ada aliran sungai kecil disana, arinya sangat jernih di tambah batu putih yang membuat sungai itu tampak sangat indah. Sungai itu tampak sangat dekat, sudah tiga puluh menit aku berjalan, tapi tidak sampai di sungai itu, ternyata hanya fatamorgana belaka. Matahari sudah di atas kepala, pertanda hari sudah siang. Perut, tenggorokan, dan badanku mulai protes meminta jatah. Ada buah sangat besar, aku senang. Warnanya hiajau. Oh tidakk... itu buah maja. Tidak bisa dimakan. Itu rajun. Dengan sisa tenaga yang ada aku terus berjalan berharap bisa kembali kerumah. Rintihku, “ibu ayah, maafkan aku”. Pikiran itu muncul seketika, akan kesalahan yang pernah aku lakukan. Seorang anak yang belum mampu memberikan apa-apa kepada kedua orang tuanya. Anak amacam apa aku ini. Aku berhenti sejenak, di bawah pohon akasia. Ku kira usianya sudah sangat tua. Pohon ini sangat besar, 7 dekapan orang dewasa kira-kira, tingginya menjulang kelangit hingga tak bisa kulihat. Pohon itu memiliki lubang besar, ku lihat di dalamnya, seekor ular phiton besar siap memangsa. Oh Tuhan cobaan apa lagi ini. Dengan tergopoh-gopoh aku lari menghabiskan sisa tenaga. Lima puluh meter di depanku ada harimau besar seukuran anak sapi, aku berhenti lalu memanjat pohon. Tak sengaja aku menabrak rumah tawon, alhasil aku menemui masalah baru lagi.  

    Aku turun dengan sigap, terjun ke sungai. Baiknya aku bisa minum dan tidak dehidrasi lagi, tapi sungai ini begitu keruh. Airnya sangat asam. Sisi buruknya, ada predator besar. Buaya muara panjangnya lima meter, mengendap-endap menghampiri. Dengan pakaian basah kuyup aku lari. Hari semakin petang, jalan yang ku lalui semakin tak terlihat. “hiii hi hi hi” mirip seperti suara hantu seperti film yang pernah aku tonton, kuntilanak. Bau kemenyan semakin menyengat, burung hantu dan lolongan serigala saling bersahutan. “wusss” sekelebat aku lihat bayangan. Bulu kudukku semakin menjadi. Tubuh besar rambut panjang, mata merah bertaring itu seiap menerkamku, genderuwo. Lagi, aku lari sempoyongan dengan sisa-sisa tenaga, jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Aku pasrah. Tetiba aku terpeleset dan terjatuh kedalam jurang yang tak menemui dasar..... masih dalam suasana begitu aku mendengar suara adzan subuh. Dan yah, semua kejadian itu hanya mimpi, hanya mimpi. Aku terbangun dengan tugas yang belum selesai ku kerjakan. Laptop yang masih terbuka, buku yang masih berserakan dan hp yang sudah penuh di cas”.
     

    Begitulah cerita temanku, mimipi dalam mimpi. Karena Aku sudah tidur maka tak ku balas pesan itu.

    Ada yang pernah mengalami seperti demikian.?
    Jatuh tidak menemui dasar?
    Bermimpi dalam mimpi.?
    Atau masih ada kisah mimpi yang lain.?
    Mari berbagi kisah mimpimu sobat.....

    Mari berwudhu, berdo’a sebelum tidur, dan jangan malas!
    ada yang tau do'a setelah dan sebelum tidur.? mari coret-coret di komentar.

    20.39
    Megang Sakti
    Musi Rawas

    2 comments:

    1. luar biasa kawan.... sukses trus... insyaallah

      ReplyDelete
      Replies
      1. Hnya menyalurkan ingin. Semoga dikau juga demikian kawan. Yg dah jadi ustadzah. Semoga berkah. Aamiinn

        Delete

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728