Covid 19. “OOO.... Ternyata”
Covid 19. “OOO....
Ternyata”
By: Muhammad Sigit
S
Selasa malam
rabu, ditengah pandemik covid 19. Pukul 20.16 WIB. Kelurahan Megang Sakti 1,
Megang Sakti rintik gerimis. Tiadalah kisah pasti selain dahulu, lampau, masalalu
atau yang pernah di lewati, dan hanya al qur’an yang menceritakan masa depan
yang pasti. Darisana hilir cerita bermula. Sebuah perkumpulan katakanlah
organisai mahasiswa berlangsung, organisasi ini didominasi oleh mahasiswi. Tapi,
sependekpengalamanku hampir semua organisasi begitu kecuali beberapa saja.
Sore itu rapat
dimulai, kali ini di lokal. Kadang kami rapat di masjid, di pelataran, taman kampus,
atau tempat lain, sesuai kebutuhan. Membahas mengenai agenda yang akan
dilakukan besok, mengevaluasi bagaimana kegiatan lalu, merancang kegiatan untuk
bulan atau tahun depan. Peserta rapat kian padat, karena kali ini seluruh devisi
harus melaporkan progresnya seminggu lalu.
Berkegiatan adalah
dunia kami, semua itu tidak asing bagi kami. Sebab jam terbang kami tidak
diragukan lagi, mulai dari skala regional hingga acara internasional. Berlelah-lelah
dalam persiapan untuk kesuksesesan acara adalah cara kami. Lembur hingga pagi,
bukan masalah. Tugas kuliah.? Ah. Selesai. Nilai.? Masih diatas KKM.
Beberapa hal
yang sangat unik dari organisasi ini diantaranya keanggotan yang di dominasi
perempuan, pengaturan jadwal rapat yang tak boleh melebihi jam 18.00 WIB dan baru
boleh dimulai dari pukul 06.00 WIB, begitupun interaksi dengan bukan mukhrim. Kecuali
ada hal yang urgent. Walau aturan itu tak semuanya mengikuti, (hayoo jujur saja
kawan) hanya beberapa saja ku pikir. Begitu juga dengan aku. Kuanggap aturan
itu hanya sebagai motivasi dan seru-seruan saja.
Selain itu,
tak jarang dalam rapat kami berdebat hebat. Hingga kadang tak berujung. Pernah di
beberapa rapat ada yang membentak, menggebrak meja, hingga ada yang menangis
dan keluar, seingatku dua atau tiga kali begitu, entah zaman itu begitu lucu
untuk diingat. Anehnya hanya mendebatkan hal yang sebenarnya bisa selesai
dengan diskusi kecil.
Pernah juga
rapat yang seharusnya hanya dihadiri oleh pengurus inti, malah dihadiri oleh
semua anggota, jadi ya pembahasannnya muter-muter. Hal-hal teknis yang bisa
selesai di satu atau dua orang malah jadi runyam. Misal pada pemilihan tema,
warna baju seragam, dan hal lain. Semua keunikan yang ada menjadi nuansa berbeda
dari organisasi lainya,hebatnya ketika hari H, acara bisa berlangsung dengan
lancar. Mungkin karena ada campur tangan yang maha dahsyat. Kenapa bisa
begitu.? Bisa jadi, karena kami didik ketika mengadakan sebuah kegiatan
orientasinya bukan untuk mencari keuntungan, tetapi memang betul-betul untuk
berbagi ilmu kepada khalayak ramai, dan ikut mensyi’arkan kebaikan, walau belum
baik. Namun setidaknya menjadi baik bersama-sama itu akan lebih indah. Selain itu,
ketika rapat kami didik untuk memulainya dengan cara yang resmi, dimulai dengan
salam, muqadimah, tilawah, dan kadang ada kulsi (kuliah singkat) berupa nasihat
atau tadabur ayat dari salah satu anggota, entah sekarang masih dilaksankan
atau tidak dan di akhiri dengan do’a penutup majelis.
Kembali disaat
rapat, tak jarang keputusan yang sudah disepakati berubah seketika di luar
rapat. Gila.! Hingga menimbulkan soudzon beberapa pihak. Bagi mereka yang
usianya baru berumur jagung (anggota/pengurus baru), bingung akan organisasi
ini bagaimana. Yang paling sering sih antara pendapat kaum Adam dan Hawa.
“siapa sih yang suka ambil
keputusan sendiri?” kata si A
“itu, si Fulan” jawab si B ketus
“loh, kok gitu.?” Tanya Si A penasaran
“iya. Udah biasa itu, Dia tu
nggak ngerti... biarkan saja. Kita kerjakan saja-apa yang sudah menjadi tugas
kita” jawab si B malas.
“Tapi....?” lanjut si A.
“Tapi apaa...? udahlah... suatu
saat kamu akan tau, sekarang belum masanya.” Potong si B kesal.
Kurang lebih
begitulah percakapan yang hampir sama di kedua belah pihak, kesalahpaham ini
terus saja ada, hingga diketahui kebenarannya. Hal ini tidak hanya terjadi di
satu organisasi, melainkan hampir semuanya. Kesalahpahaman yang kian berlanjut
membuat beberapa orang mendapat julukan
sebagai provokator, kepala koordinator, atau sumber dari akar masalah.
Lucunya cerita
salah paham tersebut itu diketahui ketika masing-masing pengurus tak lagi
menjadi pengurus dan tersadar gara-gara game screnshoot ayat disertai
keterangan, jika telah menjelaskan ayat tersebut akan diceritakan, kekurangan,
kelebihan, moment pertama kenal dan lain sebagainya disela-sela Pandemi Covid
19.
Dari sanalah
mereka bisa berkata, “ooooo, ternyata... maaf ya dulu pernah membuat jengkel,
kesal dan lain sebagainya” kata salah satu pengurus.
“iya, aku juga minta maaf dan
sudah di maafkan serta aku tak menyimpan dendam apapun”. Jawabnya singkat. Tetap
dengan judesnya namun lebih anggun.
***
Untuk semua pengurus yang di
Rahmati Allah SWT, nikamati saja dinamika yang terjadi. Biarkan itu menjadi bumbu
cerita dikala kau tak lagi berkesempatan disana, kecuali kau tak mau lulus. Tapi tentu dengan
suasana berbeda.
“Organisasi Itu adalah
hidangan yang di siapkan di meja makan dengan berbagai macam menu, ada yang
memiliki rasa asin, manis, pedas, asam, gurih, tawar, kadang juga ada yang
hambar.”
“tetaplah berprogres ditengah
keunikannya, tetaplah berada di koridor aturan Nya”
Salam untuk semua
#LDKCais.

Salahh paham mas 😢
ReplyDelete"sependekpengalamanku hampir semua organisasi begitu kecuali beberapa saja"
ReplyDeletewah kebalikan pengetahuan kita :D
apa aku dari dulu emang teknik yak haha
Bisa jadi karena pengalamanku masih pendek.
Delete