Raj'i
Raj'i
By: Muhammad Sigit S
Angin merayu setiap inginku. Laju roda dua kecepatan 120 CC hanya ku pakai 20 Km/jam saja. Sengaja. Biasanya dijalanan ku anggap adalah hal yang tidak produktif, apalagi naik motor. Beda, kali ini di belakangku sedang ada sosok yang harus wajib tidak ngebut.
Seperti
hujan yang turun di sore hari, ramai jalan tetiba sunyi, pun juga dengan kita.
Hanya satu dua sepeda motor bermantel dan juga yang nekat karena kepentingan
atau karena seru-seruan. Laju mobil tak sedikit yang melambat. Tersebab hujannya sangat lebat. Sedang kami lebih memilih menikmati rintik hujan dengan cara menyaksikannya dari bawah atap halte.
Peristiwa
itu di awali dari air bumi yang meng-uap, namun mata kosong manusia tak mampu
melihat kejadian itu. Evaporasi salah satu namanya yaitu penguapan air
dari bumi sebagai akibat penyinaran matahari, panas bumi dan ulah manusia. Transpirasi,
yaitu penguapan air dari tubuh semua makhluk hidup termasuk hewan, tumbuhan dan
manusia. Dan evapotranspirasi, yaitu penguapan air melalui evaporasi
dan transpirasi sekaligus. Kesemua itu disebabkan kenaikan suhu matahari
yang menjadikan air berbentuk uap. Saat ketinggian tertentu uap itu akan
berkumpul dan menjadi awan yang mengalami penurunan suhu maka terjadilah hujan.
Oh.
Benarlah kata pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Bayangkan
jika uap air yang naik kelangit itu terlihat, hingga menjadikannya mendung lalu
hujan, mungkin aku dan kamu tidak akan bisa bertemu tanpa jas hujan atau
payung. Serta jaket tebal, sebab dingin pasti selalu.
Kala
hujan hampir reda, kau berkomentar tentang tulisanku beberpa waktu lalu. Yah
kau bilang aku salah penempatan. Oke tidak masalah. Sebagai orang baik, tentu
ku maafkan dengan segala baikku. Toh itu juga ilmu, bukan sekedar komentar
tanpa arti.
Manusia
dengan segenap keunikannya menjadikan hujan sebagai sebuah icon, misalnya
menitipkan salam kepada mendung untuk seseorang dan ketika turun hujan itu di
anggap salam yang dititipkan sudah tersampaikan. Ada juga yang menganggap
sebagai sebuah rindu, jika hujannya deras berarti rindunya sedang sangat dalam.
Ada yang menyayangkan kenapa hujan, ada yang sangat berterimakasih karena
hujan. Hal itu pada intinya tentang bagiamana menyikapi hujan itu sendiri.
Jumlah
rintiknya yang tak mampu di hitung, namun jelas terlihat deras dan tidaknya. Percikannya
menerpa sesiapa saja yang berada di sekitarnya. Genangannya menjadi pertanda. Begitlah
seharusnya kita, ketika berada dimana saja harus meninggalkn tanda tentu harus
positif dan tepat.
Seperti hari ini, 23 Nov 2020 hujan hampir merata mengguyur beberapa wilayah lagi-lagi berkat bantuan aplikasi buatan Jan Kuom aku tau informasi.
5 baris
kalimat terlintas :
Hujan dikala sore
Kumpulan awannya seperti cinta
yang di ramu.
Turunnya tidak pernah salah . Tinggal
bagaimana cara menyikapinya.
Seperti cinta yang tak pernah
salah hinggap, tinggal bagaimana mengelolanya.
Akankah menjadi cinta sejati,
atau cinta semu tanpa pasti?
Hari makin sore, perlahan debit air sudah menurun.
"Kamu sudah mandi?"
"sudah"
"kapan?"
"kemarin sore"
"hah? jorok!"
"kan sore ini sekalian mandi
hujan"
"Issshh"
"mana ponselmu?"
"ini, untuk apa?"
"jederr!!" tiba-tiba
petir menyambar
Akhirya pulang dengan basah kuyup.
#Udan, hujan, raj'i, Rain.
No comments