Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Raj'i

    picture by : Galeri Pribadi Mss

     

    Raj'i

    By: Muhammad Sigit S

    Angin merayu setiap inginku. Laju roda dua kecepatan 120 CC hanya ku pakai 20 Km/jam saja. Sengaja. Biasanya dijalanan ku anggap adalah hal yang tidak produktif, apalagi naik motor. Beda, kali ini di belakangku sedang ada sosok yang harus wajib tidak ngebut.

    Seperti hujan yang turun di sore hari, ramai jalan tetiba sunyi, pun juga dengan kita. Hanya satu dua sepeda motor bermantel dan juga yang nekat karena kepentingan atau karena seru-seruan. Laju mobil tak sedikit yang melambat.  Tersebab hujannya sangat lebat. Sedang kami lebih memilih menikmati rintik hujan dengan cara menyaksikannya dari bawah atap halte.

    Peristiwa itu di awali dari air bumi yang meng-uap, namun mata kosong manusia tak mampu melihat kejadian itu. Evaporasi salah satu namanya yaitu penguapan air dari bumi sebagai akibat penyinaran matahari, panas bumi dan ulah manusia. Transpirasi, yaitu penguapan air dari tubuh semua makhluk hidup termasuk hewan, tumbuhan dan manusia. Dan evapotranspirasi, yaitu penguapan air melalui evaporasi dan transpirasi sekaligus. Kesemua itu disebabkan kenaikan suhu matahari yang menjadikan air berbentuk uap. Saat ketinggian tertentu uap itu akan berkumpul dan menjadi awan yang mengalami penurunan suhu maka terjadilah hujan.

    Oh. Benarlah kata pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Bayangkan jika uap air yang naik kelangit itu terlihat, hingga menjadikannya mendung lalu hujan, mungkin aku dan kamu tidak akan bisa bertemu tanpa jas hujan atau payung. Serta jaket tebal, sebab dingin pasti selalu.

    Kala hujan hampir reda, kau berkomentar tentang tulisanku beberpa waktu lalu. Yah kau bilang aku salah penempatan. Oke tidak masalah. Sebagai orang baik, tentu ku maafkan dengan segala baikku. Toh itu juga ilmu, bukan sekedar komentar tanpa arti.

    Manusia dengan segenap keunikannya menjadikan hujan sebagai sebuah icon, misalnya menitipkan salam kepada mendung untuk seseorang dan ketika turun hujan itu di anggap salam yang dititipkan sudah tersampaikan. Ada juga yang menganggap sebagai sebuah rindu, jika hujannya deras berarti rindunya sedang sangat dalam. Ada yang menyayangkan kenapa hujan, ada yang sangat berterimakasih karena hujan. Hal itu pada intinya tentang bagiamana menyikapi hujan itu sendiri.

    Jumlah rintiknya yang tak mampu di hitung, namun jelas terlihat deras dan tidaknya. Percikannya menerpa sesiapa saja yang berada di sekitarnya. Genangannya menjadi pertanda. Begitlah seharusnya kita, ketika berada dimana saja harus meninggalkn tanda tentu harus positif dan tepat.

    Seperti hari ini, 23 Nov 2020 hujan hampir merata mengguyur beberapa wilayah lagi-lagi berkat bantuan aplikasi buatan Jan Kuom aku tau informasi.

    5 baris kalimat terlintas :

    Hujan dikala sore

    Kumpulan awannya seperti cinta yang di ramu.

    Turunnya tidak pernah salah . Tinggal bagaimana cara menyikapinya.

    Seperti cinta yang tak pernah salah hinggap, tinggal bagaimana mengelolanya.

    Akankah menjadi cinta sejati, atau cinta semu tanpa pasti?


    Hari makin sore, perlahan debit air sudah menurun.

    "Kamu sudah mandi?"

    "sudah"

    "kapan?"

    "kemarin sore"

    "hah? jorok!"

    "kan sore ini sekalian mandi hujan"

    "Issshh"

    "mana ponselmu?"

    "ini, untuk apa?"

    "jederr!!" tiba-tiba petir menyambar

    Akhirya pulang dengan basah kuyup.

     

    #Udan, hujan, raj'i, Rain.


    No comments

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728