Malas!
Picture from google
Malas!
By:
Muhammad Sigit S
|
A
|
dalah
titik dimana tidak ingin melakukan sesuatu, tidak diketahui apa sebabnya.
Misalnya malas membaca. Padahal sebagai mahasiwa, suka tidak suka, mau tidak
mau harus membaca, baik itu membaca cepat, tersirat ataupun yang lainnya. Tugas
kuliah yang begitu menumpuk itu perlu kalian bariskan agar tidak menumpuk, lalu
Kerjakan!. Jangan hanya di pandang, di sawang, apalagi di tinggal tidur serta
berharap setalah bangun tugas akan selesai. Tapi sebenarnya bisa, sebab hal itu
pernah terjadi. Minggu lalu temanku yang masih mahasiswa dengan banyaknya tugas
yang berbaris, karena sudah ia bariskan seperti saranku, bercerita. Melalui
pesan singkat di WA. “Assalamu’alaikum” sapa temanku. Saat itu sudah pukul satu
dini hari. “waalaikumussalam” jawabku singkat, dengan mata sedikit sayu. “Aku mau
cerita”. “silahkan saja, jika masih kuat langsung ku balas ceritamu, jika tidak
esok atau lusa ku balas”. Jawabku.
Begini cerita temanku:
Setelah
isya Aku mengerjakan tugas sambil berbaring. Dan tugasku selesai. Tapi aku sangat
tidak yakin jika itu selesai, kulihat lagi, ku cek lagi, ternyata memang
selesai. Lagi, hati kecilku belum yakin, siapa tau ini hanya mimpi. namun tak lama Ibuku memanggilku dari dapur. ”Oh sial ini mimpi”.
Ternyata tugasku belum selesai. Bergegas aku menuju dapur, aku sangat terkejut.
Ibuku tidak ada, dan benar masih tidur pulas di kamar dengan adik kecilku.
Kakiku gemetar dengan begitu hebatnya, lalu aku datangi Ibuku dan bertanya,
“apa ibu tadi memanggilku.?” “Tidak, kamu ngiggau.?” “Apa iya ya.?”tanyaku
penasaran. “Iya.” Jawab ibuku, Plakk.. tamparan ke pipi kanan oleh ibuku. Oh
benar, ternyata hari masih pagi, subuhpun belum sampai. Kembali aku bergegas
mengerjakan tugas yang belum selesai, kukerjakan dengan santai, teliti dan
hati-hati, sebab jam delapan pagi sudah harus di kumpul. Belum sampai jam enam
pagi, tugasku akhirnya rampung ku kerjakan. Aku mandi, lalu sarapan dan
bergegas berangkat ke sekolah. Seperti biasa aku menunggu angkot di pinggir
jalan, setelah beberapa menit datanglah angkot yang mengarah kesekolahku,
angkot ini tidak seperti biasanya. Hanya ada aku, sopir angkot dengan wajah
yang begitu sinis, dan kakek tua yang mukanya begitu menyeramkan dengan tas cokelat
besar di sampingnya. Pisau, gunting dan cangkul tak luput dari pandanganku. Mobilpun
melaju dengan santai, aku pun tertidur.
Tiba-tiba
mobil yang ku naiki melintas jalan yang berbeda, entah aku di bawa kemana,
sepertinya kehutan. Aku bertanya pada sopir, dan hanya di jawab dengan meringis
getir. Kakek tua itu mulai mengambil pisaunya. Lalu kami berhenti di tengah
hutan di sebuah pondok kecil, tercium aroma yang begitu menyengat, bau bangkai
tepatnya. Kakek tua dan sopir mengahampiriku dengan wajah yang sangat
menyeramkan, pisau dan cangkul menghunus ke depanku. Dan dugggg.... kepalaku
terantuk jendela mobil. Oh hanya mimpi.
Mobil
berhenti dan aku semakin terkejut, kali ini persis di tengah hutan dengan
pondok kecil. Bau bangkai yang sangat menyengat. Kakek tua dan sopir menatapku
kejam. Seperti dimimpiku tadi, anehnya disana ada beberapa temanku yang ku
kenal, termasuk kamu, dan ada guru dari sekolah kita yang sudah siap dengan
mistar panjang menyerupai pedang. Terlihat beberapa temanku sedang dianiaya
oleh seseorang, ada yang di gantung, ada yang tusuk dengan besi panas. Di congkel
matanya, diiris telinganya. Badanku mati rasa, keringat bercucuran. Jantungku berdebar
dengan sangat kencang. Miris, marah, kesal dan yang paling besar adalah takut,
semua rasa bercampur aduk menjadi satu, melihat teman-temanku di cincang bak
ayam panggang. Terdengar seseorang memanggil daftar nama sesuai absen, aku
urutan ke-16 dan sekarang sudah urutan ke-14. Semakin panik, takut dan bingung
akan semua kejadian ini. Aku berdo’a semoga ini hanya mimpi, tapi ada suara
yang membisikan ke telingaku dan mengatakan bahwa ini nyata, bukan mimpi. Di tambah
Teriakan teman-temanku yang sedang di mutilasi hidup-hidup mengacaukan
keyakinanku bahwa ini hanya mimpi, tangis dan permohonanku tak di hirau oleh
mereka, malah mereka asyik dengan temanku yang masih hidup tapi jari tangannya
sudah hilang lima. Akupun mencoba lari menyelamatkan diri, gunting, pisau, batu
semuanya dilempar ke arahku, dengan sigap aku menghindar, lari entah kemana
sekuat tenaga.
Sudah
sekian jam aku lari, dengan nafas tersengal. Aku dehidrasi, terdengar ada
gemericik air. Ku susuri suara itu, yah benar ada aliran sungai kecil disana,
arinya sangat jernih di tambah batu putih yang membuat sungai itu tampak sangat
indah. Sungai itu tampak sangat dekat, sudah tiga puluh menit aku berjalan,
tapi tidak sampai di sungai itu, ternyata hanya fatamorgana belaka. Matahari
sudah di atas kepala, pertanda hari sudah siang. Perut, tenggorokan, dan
badanku mulai protes meminta jatah. Ada buah sangat besar, aku senang. Warnanya
hiajau. Oh tidakk... itu buah maja. Tidak bisa dimakan. Itu rajun. Dengan sisa
tenaga yang ada aku terus berjalan berharap bisa kembali kerumah. Rintihku, “ibu
ayah, maafkan aku”. Pikiran itu muncul seketika, akan kesalahan yang pernah aku
lakukan. Seorang anak yang belum mampu memberikan apa-apa kepada kedua orang
tuanya. Anak amacam apa aku ini. Aku berhenti sejenak, di bawah pohon akasia. Ku
kira usianya sudah sangat tua. Pohon ini sangat besar, 7 dekapan orang dewasa
kira-kira, tingginya menjulang kelangit hingga tak bisa kulihat. Pohon itu
memiliki lubang besar, ku lihat di dalamnya, seekor ular phiton besar siap
memangsa. Oh Tuhan cobaan apa lagi ini. Dengan tergopoh-gopoh aku lari
menghabiskan sisa tenaga. Lima puluh meter di depanku ada harimau besar seukuran
anak sapi, aku berhenti lalu memanjat pohon. Tak sengaja aku menabrak rumah tawon,
alhasil aku menemui masalah baru lagi.
Aku
turun dengan sigap, terjun ke sungai. Baiknya aku bisa minum dan tidak dehidrasi
lagi, tapi sungai ini begitu keruh. Airnya sangat asam. Sisi buruknya, ada
predator besar. Buaya muara panjangnya lima meter, mengendap-endap menghampiri.
Dengan pakaian basah kuyup aku lari. Hari semakin petang, jalan yang ku lalui
semakin tak terlihat. “hiii hi hi hi” mirip seperti suara hantu seperti film
yang pernah aku tonton, kuntilanak. Bau kemenyan semakin menyengat, burung
hantu dan lolongan serigala saling bersahutan. “wusss” sekelebat aku lihat
bayangan. Bulu kudukku semakin menjadi. Tubuh besar rambut panjang, mata merah
bertaring itu seiap menerkamku, genderuwo. Lagi, aku lari sempoyongan dengan
sisa-sisa tenaga, jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Aku pasrah. Tetiba
aku terpeleset dan terjatuh kedalam jurang yang tak menemui dasar..... masih
dalam suasana begitu aku mendengar suara adzan subuh. Dan yah, semua kejadian
itu hanya mimpi, hanya mimpi. Aku terbangun dengan tugas yang belum selesai ku
kerjakan. Laptop yang masih terbuka, buku yang masih berserakan dan hp yang
sudah penuh di cas”.
Begitulah
cerita temanku, mimipi dalam mimpi. Karena Aku sudah tidur maka tak ku balas pesan itu.
Ada
yang pernah mengalami seperti demikian.?
Jatuh
tidak menemui dasar?
Bermimpi
dalam mimpi.?
Atau
masih ada kisah mimpi yang lain.?
Mari
berbagi kisah mimpimu sobat.....
Mari berwudhu, berdo’a sebelum tidur,
dan jangan malas!
ada yang tau do'a setelah dan sebelum tidur.? mari coret-coret di komentar.
ada yang tau do'a setelah dan sebelum tidur.? mari coret-coret di komentar.
20.39
Megang
Sakti
Musi
Rawas

luar biasa kawan.... sukses trus... insyaallah
ReplyDeleteHnya menyalurkan ingin. Semoga dikau juga demikian kawan. Yg dah jadi ustadzah. Semoga berkah. Aamiinn
Delete