Episode 3 Dibalik Semak
Episode 3
“Dibalik Semak”
Malam berlanjut, kami sholat Isya’. sebelum tertidur karena capek dan kenyang
menyantap makanan yang sedari tadi di hidangkan di atas meja, di sudut meja
yang berbanding lurus dengan sudut ruangan. Ikan Goreng dengan sambal berbaris
rapi. Tak lupa juga kopi susu, juga roti coklat mengantri untuk di santap, Es
Jeruk pun di hidangkan, tergantung selera mau minum apa. Terasa di istana,
walaupun belum pernah ke istana, tau dari cerita para orang tua. Malam semakin
larut. Ku mencari kabel panjang untuk mengecas hp ku yang sudah sekarat.
Temen yang lain
terkapar karena lelah. Sudahlah aku juga ikut tidur. Mereka tidur di depan TV
sedang aku dan endrik tidur di ruang tamu di atas kursi. Malangya kami berdua
tidak di ebri selimut, ntah karena karma atau sengaja, dan ku anggap itu
ketidak sengajaan dan sudah kumaafkan, walau hati ini merasa tak enak, Para wanita
tidur di kamar. Oh ternyata aku tak bisa tidur sebab nyamuk dan rasa khawatir
menyelimuti pikirku. Ku ambil HP ku buka game mobile legend, walau signal agak
sedikit lemah tapi masih bisa untuk main game, hingga jam 01.00. lantas aku
berfikir kalo aku tidak tidur maka aku akan linglung besok pagi. Kumatikan HP
ku mencoba untuk tidur. Terdengar suara jangkrik khas pedesaaan, sesekali
terdengar suara burung hantu serta lolongan anjing di selingi kokan ayam.
Membuat malam itu semakin mencekam. Nyamuk yang tak bisa diam akhirnya kalah
dengan Autan yang kupakai. Jarum jam beranjak meninggalkan angka satu, artinya
sudah hampir pagi. Ah aku terlelap.
Terbangun sebab badan yang terasa pegal karena berbaring di atas
dua kursi yang saling berhadapan, terlipat. Kulihat jam menunjukkan pukul
04.30. ternyata hampir subuh, biasa di waktu subuh walaupun daerah panas akan
terasa dingin, namun itulah istimewanya subuh kata Rasulullah, para malaikat
dari Arsy turun menyaksikan setiap insan yang melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Aku dan Ria Saputra lebih awal bangun dan berangkat ke mushola,
orang tua emil yang juga ikut bangun menghidupkan lampu ruang tamu, hingga
tampaklah semuannya. Ada kursi yang berantakan karena Ku geser untuk ranjang
tidur dan sosok manusia yang masih tertidur. Kutarik selimutnya dan
alhamdulillah terbangun.
Aku menuju ruang TV dimana teman yang lain tidur. Oh ternyata
mereka kecapekaan dan pulas. Kubangunkan satu persatu, oh sangat susah sekali
mereka ini. Terbseit di benakku, “bagaimana kalo aku siram air?, ah tidak. Ini
rumah orang. Tapi,, tapi merka susah bangun” pikiran ku berperang yang akhirnya
dimenangkan oleh “biarlah nanti juga bangun sendiri”
Terdengar sayu- sayu suara adzan. Dua tiga suara dari speaker masjid yang bereda-beda,
kutau karena cengkoknya tak ada yang sama. Kuambil kunci kubuka pintu. Mencari
mushola hanya dari alunan adzan, terdengar dua adzan terakhir yang satu khas
suara anak muda dan yang satunya khas kakek-kakek usia lanjut. Sampai di
pelataran rumah, ku berjalan menuju barat mengikuti suara adzan, sebagian sudah
iqomah. Ah ternyata terdengar alunan sholawat atau sering kami sebut “puji-pujian”
dari arah timur yang sangat jelas.
Akhirnya Kami memutusakan putar haluan untuk menuju ketimur.
Benar saja, ada mushola kecil di sebelah kiri jalan, lima ratus
meter dari rumah emil. Miris! ternyata hanya satu orang yang berada di mushola.
Tak lama menyusul bapak-bapak usia paruh baya.
Genap empat orang kami sholat subuh. Aku dan Ria Pulang.
“Sial!”
“piye mas?” (gimana mas?)
“tenang, kita lewat aj!”
“kok tambah?”
“iya ya?”
“sudah lh tunggu”
“hayolah jangan takut”
“duluan Mas”
“sama-sama lah”
“haik!”
“cari batu!”
“gak ada gelep”
“apa aj yang ada lah”
“gk nampak apa apa mas”
“eh dimana dia tadi”
“aku gk tau, hilang di balik semak”
“kita mutar aj!”
“dk mau. Jauh. Payah”
“jadi”
“dekati pelan pelan”
“nah itu dia semakin mendekat dia di balik semak itu.”
“banyak!”
“ngeri juga”
“dasar!”
“kita ni laki”
“sudah kuduga”
“apa!”
“sama-sama takut”
“hahahahah”
Anjing itu tak berhenti menggonggong. Sampai hampir setengah enam
Aku dan Ria berdiri.
Akhirnya di pangillah si anjing peliharaan yang liar itu oleh
pemiliknya. Rupanya dia lapar.
“untung tak nekad”
“iya. Pasti cabik”
“apanya?”
“celanamu”
“Hahah.”
Langsung kami
sarapan dan bersip untuk menuju lokasi didirikannya tenda untuk BAKOMAS.
Ayo kak, lanjut ceritanya..
ReplyDelete